Mundar, Lapat dan Bakuntau

Mundar, Lapat dan Bakuntau

Mundar adalah nama sebuah desa di pegunungan meratus, dan mundar juga merupakan nama buah. Bauh mundar berwarna merah terang kalau matang dan besarnya seperti bola pimpong. Isinya persis seperti buah manggis tetapi rasanya manis dan ada rasa asemnya. Katanya sih buah ini sangat diminati oleh para bule diluar negeri sana. (Produk Ekspor). Tapi aku tidak tahu mundar dari dearah mana yang diekspor. Karena didesaku saja (desa mundar) buah mundar sudah sangat sulit ditemukan, dulu dikebun kakekku ada pohon mundar yang sangat besar dan setiap musim selalu berbuah, tapi sekarang sudah tidak ada lagi.
Lapat, dikenal juga dengan nama lain Buras. Lapat didesaku tidak berlemak (tanpa santan kelapa) dan dimakan dengan kuah sayur santan yang dicampur dengan mi dan jagung manis, beda dengan daerah lain yang ada lemaknya (dengan santan kelapa) serta tidak berkuah hanya dengan sambal saja. Dulu lapat di desaku dibungkus dengan daun lirik. Tapi sekarang sudah sangat sulit menemukan lapat daun lirik dan berkuah, yang ada hanya lontong dan itupun dibungkus pakai plastik.
Bakuntau, adalah sebuah kesenian bela diri yang dahulu ada di kampungku, tapi aku sendiri tidak tahu seperti apa bentuknya, karena seingatku aku hanya pernah melihatnya sekali ketika aku masih kecil sekali (lupa umur berapa, yang jelas aku belum sekolah). Dan sampai sekarang aku tidak pernah menyaksikannya lagi. Aku juga tidak ingat lagi bagaimana atau apa itu Bamanda. Aku berusaha membayangkan dan menerka-nerka di pikiranku seperti apa itu Bakuntau dan Bamanda, tetapi tetap saja tidak ada gambaran apapun.
Kemana kampungku yang dulu begitu menawan dengan segala keunikannya. Jika terpikir hal itu, aku merasa sedih dan bersalah. Sepertinya aku juga ikut bersalah terhadap hal itu, karena aku meninggalkan kampung halamanku sangat lama, dari umur 5 tahun sampai sekarang dan aku tidak pernah benar-benar kembali untuk ikut membangun di sana. Aku pulang hanya sekedar untuk menjenguk sanak familiku dan berlibur.

14 thoughts on “Mundar, Lapat dan Bakuntau

  1. bakuntau memang ilmu bela diri khas Banjar, gerakannya lebih bervariasi dan lebih lentur dibanding silat, lama juga tidak melihat langsung … sekarang sudah jarang, mudahan tidak punah… btw, salam kenal

  2. Bakuntau mun sama kan kaya pencak silat mun suah malihat film siti nurbaya itulah.Ada dua katagori kuntau pertama gerakan satu persatu atau jurus yg kedua BUNGA adalah rangkaian jurus yg dipadukan hingga terbentuk 1 gerakan yg cantik kalau istilah karate ‘kata’.
    Bamanda adalah budaya banjar yg mulai pudar tapi masih ada,bamanda sejenis cerita yg dilakon kan orang biasanya ngambil cerita dari 1001 malam atau cerita kerajaan banjar atau jaman penjajahan. Itu sekilas yg ku tau.

  3. @ khatulistiwa :
    jangan2 ne orang penguntauan (org yg bermain kuntaw)

    Klo Di Kandangan Tradisi bakuntaw masih banyak yg melirik… biasa nya saat acara perkawinan😀

  4. Terima kasih kepada galuh kerana bekisah tentangnya kampungnya. Diharap posting yang akan datang gin tentang kampungnya jua, sebab kami ingin tahu tentang keadaan di Tanjung. Manala tahu amun sudah sugih kaena handak badiam di Tanjung menghabiskan usia tua disana.

  5. Buah mundar semasa jaman ibu tien suharto masih hidup adalah buah khas kalsel yg ditanam ditaman buah koleksi beliau selain kasturi dan rukam.Tapi,hati2 kalau terlalu banyak makan bisa NGALU kepala.

  6. hai,salam kenal…
    aku lahir di banjar dan besar di banjar sampai umur 12 tahun,tepatnya di desa batu mandi. tapi sudah banyak yang lupa sama bahasanya karena gak pernah dipakai. kangen banget sama lapat yang pake sambal. dicari2 di internet kok kayaknya aneh ya resepnya…pake kacang gitu sambalnya. seingatku sambalnya gak pake kacang,dan lapatnya pake santan dibungkus daun pisang.
    hmmmm…. aku ngiler dah hampir setahun😦 kalau tau resepnya bagi2 ya🙂
    pengen kesana lagi tapi keadaan belum mendukung.

    kamu tinggal dimana? aku dulu punya teman waktu SD namanya Galuh juga.tapi Galuh ajeng meijayanti…:D

  7. Wah, lama sekali meninggalkan kampung. Lapat memang ada dua jenis sambalnya. Kalau pakai kacang ada didaerah tabalong, kalau yg tdk pakai kacang sambalnya daerah hulu sungai.

    -original message- Subject: [Galuh’s Blog] Komentar: “Mundar, Lapat dan Bakuntau”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s