Arsip

Petualangan Sungai ke Bumbung

Kembali aku melakukan perjalanan yang menakjubkan. Aku bersama tim berkunjung ke desa Bumbung yang merupakan anak desa Salikung kecamatan Muara Uya dan tentunya kabupaten Tabalong kotaku Bersinar. Dan karena aku sudah pernah kesalikung dan perjalanan melalui sungai sangat menyenangkan maka kami hari ini juga lebih memilih perjalan lewat sungai. Jam sepuluh pagi katinting kami tiba menjemput di desa Binjai, cuaca pagi sangat mendukung dan keadaan sungai sangat bersahabat. Dengan dua buah katinting kami berangkat beriringan, Katintingku agak tertinggal dibelakang dan timku yang lain berada di depan. Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, di depan kulihat katinting timku yang lain berhenti dipinggir sungai, kami pun agak cemas takut katintingnya bermasalah. Tetapi setelah kami dekati ternyata seorang timku ada yang belum mandi, sehingga dia minta berhenti dan mandi dulu. Tapi ada membuatku terkejut ketika seorang timku yang sudah cukup berumur berdiri di atas perahu dengan tegang dan memegang dahan pohon yang menjuntai disungai sambil mengurut dada, aku sangat cemas jangan-jangan beliau sakit. Setelah beliau tenang ternyata beliau takut karena katintingnya baru saja naik riam. Maklum beliau belum pernah naik katinting dan berpetualang di sungai, karena berasal dari pulau Lombok jadi beliau terbiasa di laut bukan di sungai yang ada riamnya. Dan dia bertanya “kita sudahkan melewati riamnya?” lalu langsung disahut rekanku yang lain “Iya pa, kita sudah lewat riamnya tapi ini yang pertama masih ada sepuluh lagi!” mendengar itu beliau langsung duduk dan berpegangan di pinggir katinting dan diam. Aku kasihan juga, karena sepanjang perjalanan berikutnya beliau tanpak tegang dan tidak bersuara. Duh aku sangat berterima kasih dan terharu dengan beliau karena tetap tabah sepanjang perjalanan mendampingiku. Sambil menikmati perjalanan aku berpikir seandainya rute sungai yang kami tempuh ini dijadikan rute wisata pastilah sangat menarik, karena disepanjang jalan kita dapat suguhan hutan hujan tropis yang teduh dan lembab, bermacam burung yang kadang-kadang terlihat disungai mencari makan dan yang berlompatan di dahan pohon. Juga yang membuat aku takjub kami bertemu sekelompok primata yang awalnya kusangka monyet tapi setelah didekati ternyata Bekantan, (kupikir hanya dapat ditemui di pulau kembang, ternyata di Tabalong juga ada! Senangnya…….) Dalam perjalanan pulang tampak langit mulai gelap, aku agak sedikit cemas hujan akan turun. Dan benar!, di perjalanan hujan turun dengan derasnya, padahal kami baru separo perjalanan. Jaket anti air yang aku kenakan tidak mampu menahan dingin, aku menggigil dan berdoa dalam hati semoga air sungai tidak meluap tiba-tiba. Kulihat rekan-rekanku berusaha melindungi diri dengan menggunakan terpal yang ada di perahu. Ternyata….. aku benar-benar merasakan hujan tropis di atas sungai dalam hutan hujan pedalaman Kalimantan. Aku tidak menyangka akan mengalami pengalaman seperti yang kubaca di buku dan film documenter mengenai hutan hujannya Kalimantan. (padahal aku asli orang Kalimantan)

Terima kasih untuk rekan-rekanku yang penuh perjuangan dan ketabahan mendampingiku dari keberangkatan sampai pulang kembali. Semoga perjalanan kita dapat memberikan perubahan kearah yang lebih baik untuk masyarakat di kemudian hari.
Iklan

Pasar

Tadi pagi, saya pergi ke pasar tradisional yang ada di kotaku (Tanjung). Selain berbelanja, saya memperhatikan kegiatan yang terjadi di sekitar saya. Ternyata selain kegiatan jual-beli, pasar telah menjadi sebuah tempat komunitas bagi penghuninya (penjual). Disana dapat ditemui, ibu-ibu penjual sayur yang menjual barang dagangannya sambil menjaga anaknya yang masih berusia balita. Penjual ayam yang tertawa dan bertukar gosip dengan rekan penjual ayam disampingnya. Penjual ikan yang merayu seorang ibu muda berpenampilan menarik untuk membeli ikannya dalam jumlah banyak. Anak-anak usia sekolah yang berlarian di sekitar los-los pertokoan baju.Dan tentu saja, ‘penjaga’ pasar yang berkeliaran di sekeliling pasar sambil menarik iuran tiap toko.

Pasar merupakan suatu sarana umum yang menjadi ciri atau tanda geliat perekonomian masyarakatnya. Saya teringat  kejadian gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006 silam. Beberapa hari setelah gempa, saya dan teman-teman saya hampir setiap hari pergi mengunjungi daerah bantul dan klaten, tempat terparah kerusakan akibat gempa, untuk memberikan bantuan. Tetapi ketika pasar tradisional setempat mulai hidup, atau telah tersedia barang dagangan yang dijual dan mulai banyak masyarakat yang berdatangan untuk membeli. Seorang rekan mengatakan bahwa misi bantuan berupa barang (makanan, selimut, dll), dapat dikurangi karena masyarakat sudah mulai dapat berdiri sendiri. Hal itu ditandai dengan pasar tradisional yang mulai ramai. Ketika kami menanyai korban pun, mereka mengatakan bantuan barang sudah cukup .

Pasar tradisional di Indonesia masih merupakan tempat belanja utama. Walaupun sudah banyak supermarket-supermarket, tetapi keberadaan tempat-tempat tersebut hanya terbatas di kota-kota besar saja. Di daerah seperti di Tanjung belum ada. Karena itu saya harapkan pemerinta daerah mau lebih memperhatikan kondisi pasar tradisional setempat. Keamanan dan kenyamanan pasar, adalah hal utama yang harus ditingkatkan.

 image060

(“pasar ikan” ~ suasana pasar ikan)

image062

(“Melamun” ~ seorang ibu menunggui dagangannya sambil melamun)

Ulang Tahun Bersinar

Hmmmmm.....Enak

Hmmmmm.....Enak

Tanggal 6 Desember lalu Kotaku Bersinar berulang tahun. Kotaku hari itu sangat cantik, disepanjang jalan dihiasi lampu yang indah, ditengah jalan (pembatas jalan) ditanami tanaman yang diatur sangat apik. Banyak acara meramaikan kotaku, ada artis ibu kota, ada atraksi di depan pendopo, jalan santai. Tapi ada satu yang sangat menarik bagiku yaitu acara makan gratis masakan khas kotaku yaitu Paliat. Paliat adalah masakan yang terbuat dari ikan Patin, Baung atau Udang yang diberi kuah dari santan dengan bumbu khusus dan ditemani dengan lalapan. Disepanjang jalan berjejer puluhan tenda yang menyediakan menu masakan paliat tersebut. Masyarakat yang datang ke sana bebas makan dengan gratis. Sambil makan masyarakat dihibur dengan pertunjungan musik panting yang menyuguhkan lalu-lagu Japin, juga musik pop dan musik dangdut tidak ketinggalan memeriahkan acara. Sayang aku tak sempat mengabadikan masakan Paliat tersebut, karena ketika aku datang masakannya pada habis semua. Aku jadinya pulang dengan perut lapar (hik..hik..hik sedih juga).

Asyik juga nih!

Asyik juga nih!

Mutiara itu namanya Salikung

Salikung 2
foto0341
Salikung 2

Cemas…….

Itulah yang kurasakan ketiga berangkat dari rumah menuju desa Salikung. Sepanjang perjalanan hujan turun dengan deras menambah tidak karuan suasana hatiku. Kurang lebih satu setengah jam perjalanan dengan mobil dari kota Tanjung kami sampai ke desa Binjai (Ajaib begitu sampai, hujan berhenti). Kemudian kami turun ke sungai untuk melanjutkan perjalanan dengan naik Katinting (perahu kecil dengan motor). Aku semakin cemas begitu menginjakkan kakiku ke katinting, Perahu itu sangat kecil dan sangat tidak stabil (menurutku he..he..). Kupanjatkan doa dalam hati agar kami semua selamat sampai tujuan, tapi cemasku ternyata tidak bertahan lama, begitu aku disuguhi pemandangan yang menakjubkan di sepanjang perjalanan. Dikanan kiri terbentang hutan yang lebat, dahan-dahan pohon saling bertautan membentuk kanopi yang sangat teduh sehingga perasaan menjadi damai. Cipratan air mengenai badanku dan hawa dingin mengalir sejuk membuat perasaan tenang. Sesekali di kanan kiri sungai kulihat sekelompok kecil rumah penduduk yang begitu khas dikelilingi tanaman padi atau pun pohon karet kecil, juga seekor berang-berang lucu (kalau enggak salah menurutku sih berang-berang) yang melompat kedarat karena terkejut dengan hadirnya katinting kami. Aku disuguhi pemandangan yang menakjubkan selama dua jam. Ketika matahari sudah mulai condong di upuk barat kami pun pulang. Saat perjalanan pulang kami menjumpai seekor burung cantik berparuh merah menyala yang berbulu kuning dan hijau terbang melompat dari dahan kedahan. Perjalanan pulang kami tempuh sekitar 75 menit saja, karena mengikuti arus (maksudnya ke hilir ding).

Salikung 3

Salikung 3

MUSIM HUJAN DI KOTAKU

SUNGAI SULINGAN

Jika musim hujan tiba, beginilah keadaan sungai yang membelah kotaku. Di daerah tertentu sungai meluap dan membanjiri ruas-ruas jalan serta perumahan penduduk. Bahkan anak sekolah yang kebetulan sekolahnya harus melalui ruas jalan tersebut tidak dapat pergi kesekolah. Tahun ini agak lumayan karena sebagian besar ruas-ruas jalan tersebut tidak banjir lagi. Aku bersukur karena tahun ini kotaku sudah banyak berbenah diri, jalan protokol diperlebar, saluran air juga diperbesar sehingga kami sebagai penghuni kota bersinar agak sedikit tenang. Mudahan kedepannya kami bisa bernapas lega tanpa mencemaskan banjir lagi. Yang agak sedih tahun ini mungkin para penarik gerobak dadakan yang biasanya menyediakan jasa angkutan bagi pengguna jalan yang melintasi banjir.

O, ya! Aku dalam waktu dekat ini merencanakan perjalanan ke suatu desa yang cukup terpencil di daerahku. Katanya kalau dilakukan dengan kendaraan roda empat akan memakan waktu 1 sampai 2 jam dari desa terdekat, tergantung cuaca. Kalau musim hujan seperti ini mobil biasa tidak akan dapat kesana, harus pakai mobil yang double. Tapi kalau pakai katinting (Perahu kecil pakai motor) akan lebih mudah karena air sungai dalam, dari desa terdekat memakan waktu sampai 3 jam, cukup lama karena melawan arus (lucu juga ya? Masa ke gunung naik perahu). Sedangkan dari kota kabupaten sampai kedesa terdekat memakan waktu 1,5 jam perjalan dengan roda empat, jadi dapat dibayangkan jauhnya, eh sebenarnya tidak jauh cuma medannya saja yang sulit. Kalau kupikir lagi, aku jadi agak takut, masalahnya mungkin nanti aku harus pakai katinting, sedangkan aku tidak dapat berenang dan lagi kalau air sungainya dalam seperti ini biasanya banyak pohon yang hanyut dari hulu sungai dan kalau kena katinting kami bagaimana? (Doakan aku supaya selamat ya, he..he)

Kaka