Arsip

Laporan Perjalanan Dinas

LAPORAN PERJALANAN DINAS

Dasar melakukan Perjalanan Dinas :

1. Surat Tugas Ketua DPRD Kab. Tabalong, Nomor : /SetDPRD/UM/090/03/2010
2. Surat Tugas Perjalanan Dinas Ketua DPRD Kab. Tabalong,
Nomor : 094/ /Um.
Tanggal : 15 Maret 2010

Atas dasar tersebut di atas, maka :

N a m a / N I P :
Pangkat/Gol. Ruang :
Jabatan :

Telah melakukan Perjalanan Dinas selama 5 (Lima) hari kerja dari tanggal 16 s.d. 20 Maret 2010, dengan hasil kegiatan sebagai berikut :

1. Perjalanan Dinas keluar daerah dalam rangka kunjungan Kerja Komisi I DPRD Kabupaten Tabalong tentang Ketenagakerjaan dan Balai Latihan Kerja di Pemerintah Kota Bandung (Disnaker Bandung) propinsi Jawa Barat.
2. Kota bandung melakukan rekrutmen tenaga kerja dengan melakukan pelatihan di setiap perusahaan.
3. Melakukan kerjasama dengan daerah-daerah dalam melakukan perekrutan tenaga kerja.
4. Menyiapkan tenagakerja yang terampil dan prodoktif yang berbasis masyarakat.
5. Menyiapkan tenaga kerja loKal yang diatur dengan perda sebagai dasar ketenegakerjaan.
6. Dalam pengawasan k3 dilakukan secara kontinyu agar mengurangi permasalahan kecelakaan tenaga kerja.
7. Perlunya peran serta masyarakat dalam menyelesaikan masalah ketenagakerjaan dengan pelatihan ketenagakerjaan dari masyarakat setempat.
8. Perusahaan tenagakerja khusus yang ada diarea perusahaan.
9. Menginventarisir setiap perusahaan terhadap ketenagakerjaan yang diperlukan.

Demikian Laporan Perjalanan Dinas ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Dibuat di Tanjung
Pada tanggal 22 Maret 2010

Mengetahui :
KETUA DPRD TABALONG Yang membuat laporan

Iklan

knok….knok…knok…..!!!

Lamaaa….. sekali aku tidak mangisi dan menengok blogku ini. Bukan karena aku sibuk bukan pula karena lupa tapi karena aku terlalu sering keluar kota dan terlalu banyak ide dikepala yang mau kutuliskan sehingga aku bingung sendiri.
Hampir pertengahan tahun sudah berjalan di 2010 ini, tapi aku belum juga merumuskan tergetku di tahun ini, kayaknya aku terlalu terhanyut dengan aktivitas bepergianku. Mungkin dalam beberapa hari ini harus kupikirkan dan rumuskan apa targetku tahun ini. Semangat….!semangat…!semangat…..!

Bamulut (bahasa Banjar)

Dalam samingguan ini ulun saruan tarus, awak rasa balamak imbah makan tarus di urang bamulutan. Hanyar datang, sudah disurungi makan lawan wadai. Hmmmmmmm…. nyaman tupang! nang kada tatinggal pasti ada wadai apam. Lalu mulai urang mambaca syair habsi sambil batarbang. Imbah urang babacaan di mesjid tarus badoa, ulun disurungi makan pulang. Asa kada kawa badiri lagi kakanyangan, buliknya disangu’i pulang. Bulan mulut dasar bulan rajaki.
Aku mencoba bahasa banjar, ternyata sulit untuk menggunakannya dalam tulisan. Bahasa banjarku sudah campur aduk, karena aku dilahirkan di Barabai, dibesarkan di Kandangan dan mencari rejeki di Tanjung. Tapi aku masih mending dibandingkan adingku, meskipun dia lahir di Barabai tapi besarnya di pulau Jawa, jadi bahasa banjarnya sangat kacau.
Kandangan……..
Kandangan seperti kampung halaman kedua bagiku, aku mengawali bangku sekolah di sana, jauh di Padang Batung, jarak sekolahku dari rumah lumayan jauh sekitar 3 km yang kutempuh dengan jalan kaki. Aku sudah lupa nama sekolahku, yang kuingat sekolahku dekat dengan sebuah goa. Aku setiap pagi berangkat bersama tanteku yang duduk di kelas 5 SD dan tetanggaku yang juga sudah kelas 3 & 4. hanya aku seorang yang baru kelas 1 SD. Jadi pulangnya tidak berbarengan, tetapi aku takut pulang sendiri, setiap pulang sekolah aku selalu mampir dulu di rumah teman sekelasku dan menunggu tante untuk pulang bersama. Banyak yang kami lakukan bersama, kami mandi di sungai, pergi kekebun memetik jagung atau cuma tiduran dirumahnya sampai tanteku datang menjemput. Tapi aku sudah lupa siapa namanya dan bagaimana rupanya, tapi ada satu yang kuingat sampai kini, waktu itu kami memutuskan untuk memetik jagung di kebunnya, tetapi hari itu sungai agak dalam padahal untuk ke kebun kami harus menyeberangi sungai. Aku takut menyeberang karena aku tidak bisa berenang, lalu temanku menggendongku sampai ke seberang. Aduh temanku yang baik mungkinkah kita bertemu lagi ?

Mundar, Lapat dan Bakuntau

Mundar, Lapat dan Bakuntau

Mundar adalah nama sebuah desa di pegunungan meratus, dan mundar juga merupakan nama buah. Bauh mundar berwarna merah terang kalau matang dan besarnya seperti bola pimpong. Isinya persis seperti buah manggis tetapi rasanya manis dan ada rasa asemnya. Katanya sih buah ini sangat diminati oleh para bule diluar negeri sana. (Produk Ekspor). Tapi aku tidak tahu mundar dari dearah mana yang diekspor. Karena didesaku saja (desa mundar) buah mundar sudah sangat sulit ditemukan, dulu dikebun kakekku ada pohon mundar yang sangat besar dan setiap musim selalu berbuah, tapi sekarang sudah tidak ada lagi.
Lapat, dikenal juga dengan nama lain Buras. Lapat didesaku tidak berlemak (tanpa santan kelapa) dan dimakan dengan kuah sayur santan yang dicampur dengan mi dan jagung manis, beda dengan daerah lain yang ada lemaknya (dengan santan kelapa) serta tidak berkuah hanya dengan sambal saja. Dulu lapat di desaku dibungkus dengan daun lirik. Tapi sekarang sudah sangat sulit menemukan lapat daun lirik dan berkuah, yang ada hanya lontong dan itupun dibungkus pakai plastik.
Bakuntau, adalah sebuah kesenian bela diri yang dahulu ada di kampungku, tapi aku sendiri tidak tahu seperti apa bentuknya, karena seingatku aku hanya pernah melihatnya sekali ketika aku masih kecil sekali (lupa umur berapa, yang jelas aku belum sekolah). Dan sampai sekarang aku tidak pernah menyaksikannya lagi. Aku juga tidak ingat lagi bagaimana atau apa itu Bamanda. Aku berusaha membayangkan dan menerka-nerka di pikiranku seperti apa itu Bakuntau dan Bamanda, tetapi tetap saja tidak ada gambaran apapun.
Kemana kampungku yang dulu begitu menawan dengan segala keunikannya. Jika terpikir hal itu, aku merasa sedih dan bersalah. Sepertinya aku juga ikut bersalah terhadap hal itu, karena aku meninggalkan kampung halamanku sangat lama, dari umur 5 tahun sampai sekarang dan aku tidak pernah benar-benar kembali untuk ikut membangun di sana. Aku pulang hanya sekedar untuk menjenguk sanak familiku dan berlibur.

Rindu Kampung Halaman

Sudah beberapa bulan ini aku tidak menjenguk kampung halamanku. Dalam tiga tahun terakhir ini, sejak berhenti kerja aku memang jarang kesana. Padahal sebelumnya hampir tiap bulan aku kesana.
Dahulu kampung halamanku dikenal dengan nama Kampung Mundar, kemudian menjadi desa Timan dan entah apa sebabnya sekarang kampungku berubah nama lagi menjadi desa Murung B dengan tiga anak desa, yaitu Tarlaga, Timan Muhara & Timan. Dulu kampungku termasuk dalam wilayah kecamatan Batu Benawa, sekarang masuk dalam Kecamatan Hantakan. Kampungku terletak di pegunungan Meratus. Jadi bisa dibayangkan disana cukup dingin. Kalau pagi hari minyak goreng niniku (nenek) sering beku dan perlu dihangatkan dulu sebelum dipakai. Seingatku ketika aku kecil, aku baru mau turun mandi kesungai ketika matahari sudah mulai naik karena kalau pagi-pagi sekali air sungai sangat dingin. Orang tuaku perlu usaha yang keras untuk merayuku agar aku mau mandi pagi-pagi sekali, airnya sangat jernih dan berbatu serta tidak terlalu dalam. Aku sering mencari udang-udang kecil dibalik batu bersama teman-temanku. (kalau tidak salah kami dulu menyebutnya menjaranang).
Dikampungku ada tempat pariwisatanya juga lho !, ada pemandian air panas. Aku sangat senang berendam disana ketika masih berbentuk telaga kecil, dulu untuk mencapainya kita harus malewati hutan, sawah-sawah dengan menyusuri pematang, menyeberangi sungai dan juga menyusuri sungai kecil. Aku dan teman masa kecilku sangat senang, kami seperti petualang kecil. Sekarang untuk mencapainya tidak perlu jalan kaki lagi, karena mobil sudah dapat langsung kesana dan juga telah dibangun jembatan agar tidak lagi berjalan dipematang dan menyusuri sungai kecil. Dan air panasnya juga tidak berbentuk telaga lagi tapi sudah berubah menjadi kolam setelah di rehab. Pemerintah daerah memang memperhatikan dan memperbaiki sarana disana, sehingga tempat pariwisata pemandian air panas tersebut sudah terkenal di Kalimantan Selatan. Tapi aku pribadi lebih senang keadaan yang alami seperti dulu. Sekarang sudah lebih tiga tahun aku tidak pernah berendam di sana lagi, Kangen Juga……

Petualangan Sungai ke Bumbung

Kembali aku melakukan perjalanan yang menakjubkan. Aku bersama tim berkunjung ke desa Bumbung yang merupakan anak desa Salikung kecamatan Muara Uya dan tentunya kabupaten Tabalong kotaku Bersinar. Dan karena aku sudah pernah kesalikung dan perjalanan melalui sungai sangat menyenangkan maka kami hari ini juga lebih memilih perjalan lewat sungai. Jam sepuluh pagi katinting kami tiba menjemput di desa Binjai, cuaca pagi sangat mendukung dan keadaan sungai sangat bersahabat. Dengan dua buah katinting kami berangkat beriringan, Katintingku agak tertinggal dibelakang dan timku yang lain berada di depan. Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, di depan kulihat katinting timku yang lain berhenti dipinggir sungai, kami pun agak cemas takut katintingnya bermasalah. Tetapi setelah kami dekati ternyata seorang timku ada yang belum mandi, sehingga dia minta berhenti dan mandi dulu. Tapi ada membuatku terkejut ketika seorang timku yang sudah cukup berumur berdiri di atas perahu dengan tegang dan memegang dahan pohon yang menjuntai disungai sambil mengurut dada, aku sangat cemas jangan-jangan beliau sakit. Setelah beliau tenang ternyata beliau takut karena katintingnya baru saja naik riam. Maklum beliau belum pernah naik katinting dan berpetualang di sungai, karena berasal dari pulau Lombok jadi beliau terbiasa di laut bukan di sungai yang ada riamnya. Dan dia bertanya “kita sudahkan melewati riamnya?” lalu langsung disahut rekanku yang lain “Iya pa, kita sudah lewat riamnya tapi ini yang pertama masih ada sepuluh lagi!” mendengar itu beliau langsung duduk dan berpegangan di pinggir katinting dan diam. Aku kasihan juga, karena sepanjang perjalanan berikutnya beliau tanpak tegang dan tidak bersuara. Duh aku sangat berterima kasih dan terharu dengan beliau karena tetap tabah sepanjang perjalanan mendampingiku. Sambil menikmati perjalanan aku berpikir seandainya rute sungai yang kami tempuh ini dijadikan rute wisata pastilah sangat menarik, karena disepanjang jalan kita dapat suguhan hutan hujan tropis yang teduh dan lembab, bermacam burung yang kadang-kadang terlihat disungai mencari makan dan yang berlompatan di dahan pohon. Juga yang membuat aku takjub kami bertemu sekelompok primata yang awalnya kusangka monyet tapi setelah didekati ternyata Bekantan, (kupikir hanya dapat ditemui di pulau kembang, ternyata di Tabalong juga ada! Senangnya…….) Dalam perjalanan pulang tampak langit mulai gelap, aku agak sedikit cemas hujan akan turun. Dan benar!, di perjalanan hujan turun dengan derasnya, padahal kami baru separo perjalanan. Jaket anti air yang aku kenakan tidak mampu menahan dingin, aku menggigil dan berdoa dalam hati semoga air sungai tidak meluap tiba-tiba. Kulihat rekan-rekanku berusaha melindungi diri dengan menggunakan terpal yang ada di perahu. Ternyata….. aku benar-benar merasakan hujan tropis di atas sungai dalam hutan hujan pedalaman Kalimantan. Aku tidak menyangka akan mengalami pengalaman seperti yang kubaca di buku dan film documenter mengenai hutan hujannya Kalimantan. (padahal aku asli orang Kalimantan)

Terima kasih untuk rekan-rekanku yang penuh perjuangan dan ketabahan mendampingiku dari keberangkatan sampai pulang kembali. Semoga perjalanan kita dapat memberikan perubahan kearah yang lebih baik untuk masyarakat di kemudian hari.